Kehidupan ini penuh persaingan antara kebaikan dan kejahatan. Begitu banyak orang mengajak pada kejahatan, menjauhkan manusia dari ALLAH. Namun telah ditaqdirkan tetap ada orang yang tulus mengajak manusia menuju indahnya cahaya keimanan pada ALLAH. Apa yang terbersit di benak Anda tentang seorang anak kecil yang bisu? ia hanyalah seorang anak kecil, namun ALLAH telah berkehendak menjadikannya cahaya dalam keluarganya. Simaklah kisah berikut ini tentang sebuah keluarga di Madinah, Kerajaan Arab Saudi, zaman ini:

Satu lagi, kisah nyata di zaman ini. Seorang penduduk Madinah berusia 37 tahun, telah menikah, dan mempunyai beberapa orang anak. Ia termasuk orang yang suka lalai, dan sering berbuat dosa besar, jarang menjalankan shalat, kecuali sewaktu-waktu saja, atau karena tidak enak dilihat orang lain.

Penyebabnya, tidak lain karena ia bergaul akrab dengan orang-orang jahat dan para dukun. Tanpa ia sadari, syetan setia menemaninya dalam banyak kesempatan.

Ia bercerita mengisahkan tentang riwayat hidupnya:

“Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya.

Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya.

Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?”

Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa Allah yang di langit melihatmu.

Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah.

Anak saya lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya, tapi ia lari dariku.

Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari ibunya yang juga hafal Al-Qur’an. Ia selalu menasihati saya tapi belum juga membawa faidah.

Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar… lalu ia shalat maghrib di hadapan saya.

Setelah selesai, ia bangkit dan mengambil mushaf Al-Qur’an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan jarinya ke sebuah ayat (yang artinya):

”Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan” (Maryam: 45)

Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya.

Kemudian ia mencium kepala dan tangan saya, setalah itu berbicara kepadaku dengan bahasa isyarat yang artinya, ”Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum datangnya adzab!”

Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa. Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan aneh.

Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat), ”Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi).”

Saya katakan kepadanya, ”Biar kita ke masjid dekat rumah saja.”

Tetapi anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.

Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan takut… Dan Marwan selalu memandang saya.

Kami masuk menuju Raudhah. Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat untuk shalat isya’, saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang artinya),

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (An-Nuur: 21)

Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya.

Selesai shalat, aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat, ”Sudahlah wahai Abi!”

Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku. Saya katakan, ”Kamu jangan cemas.”

Akhirnya, kami pulang ke rumah. Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke dunia.

Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.

Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari didikannya yang baik.

Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan. Saya katakan, “Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur’an dan menunjukkannya kepada saya?”

Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak mengajarinya. Kemudian ia berkata, “Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini.”

Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang -alhamdulillah- saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang.

Khususnya kepada Marwan saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya mendapatkan hidayah Allah.”

Pembaca yang senantiasa mendapat hidayah dari Allah SWT,
Sesungguh nya Allah akan memberikan hidayah kepada orang yg benar2 mau bertobat, tanpa disadari dari mana hidayah itu di pancarkan...

>>>> MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMAN NYA<<<<


SITI, BOCAH 7 TAHUN PENJUAL BASO



Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.

Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.

Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.

Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.


Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat jualan bakso keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.

Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.




بِسْـــــــمِ أللَّهِ ألرَّحْمَنِ ألرَّحِيْ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

•´ ♥♥ `• Renungan •´ ♥♥ `•
Islamic Knowledge
♥♥♥ Kisah Seorang Siswi Palestina ♥♥♥
ﷲ¸¸.•**•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*• ❤ •*¨*•.¸¸ﷲ

ini adalah kisah tentang seorang siswi di sebuah
sekolah putri di Palestina. Hari itu dewan sekolah
berkumpul seperti biasanya. Di antara keputusan
dan rekomendasi yang dikeluarkan dewan dalam
pertemuan ini adalah pemeriksaan mendadak bagi
siswi di dalam aula. Dan benar, dibentuklah tim
khusus untuk melakukan pemeriksaan dan mulai
bekerja. Sudah barang tentu, pemeriksaan
dilakukan terhadap segala hal yang dilarang masuk
di lingkungan sekolah seperti hand phone
berkamera, foto-foto, gambar-gambar dan surat-
surat cinta serta yang lainnya.

Keamanan saat itu nampak normal dan stabil,
kondisinya sangat tenang. Para siswi menerima
perintah ini dengan senang hati. Mulailah tim
pemeriksa menjelajah semua ruangan dan aula
dengan penuh percaya diri. Keluar dari satu
ruangan masuk ke ruangan lainnya. Membuka tas-
tas para siswi di depan mereka. Semua tas kosong
kecuali berisi buku-buku, pena dan peralatan
kebutuhan kuliah lainnya. Hingga akhirnya
pemeriksaan selesai di seluruh ruangan kecuali satu
ruangan. Di situlah bermula kejadian. Apakah
sebenarnya yang terjadi ???

Tim pemeriksa masuk ke ruangan ini dengan
penuh percaya seperti biasanya. Tim meminta izin
kepada para siswi untuk memeriksa tas-tas
mereka. Dimulailah pemeriksaan.
Saat itu di ujung ruangan ada seorang siswi yang
tengah duduk. Dia memandang kepada tim
pemeriksa dengan pandangan terpecah dan mata
nanar, sedang tangannya memegang erat tasnya.
Pandangannya semakin tajam setiap giliran
pemeriksaan semakin dekat pada dirinya. Tahukah
anda, apakah yang dia sembunyikan di dalam
tasnya ???

Beberapa saat kemudian tim pemeriksa memeriksa
siswi yang ada di depannya. Dia pun memegang
sangat erat tasnya. Seakan dia mengatakan, demi
Allah mereka tidak akan membuka tas saya. Dan
tiba lah giliran pemeriksaan pada dirinya.
Dimulailah pemeriksaan.
Tolong buka tasnya anakku, kata seorang guru
anggota tim pemeriksa. Siswi itu tidak langsung
membuka tasnya. Dia melihat wanita yang ada di
depannya dalam diam sambil mendekap tas ke
dadanya. Barikan tasmu, wahai anakku, kata
pemeriksa itu dengan lembut.

Namun tiba-tiba dia
berteriak keras: tidak … tidak … tidak …
Teriakan itu memancing para pemeriksa lainnya
dan merekapun berkumpul di sekitar siswi
tersebut. Terjadilah debat sengit: berikan … tidak …
berikan … tidak …
Adakah rahasia yang dia sembunyikan??? Dan apa
yang sebenarnya terjadi???
Maka terjadilah adegan pertarungan tangan untuk
memperebutkan tas yang masih tetap berada
dalam blockade pemiliknya. Para siswi pun
terhenyak dan semua mata terbelalak. Seorang
dosen wanita berdiri dan tangannya diletakan di
mulutnya. Ruangan tiba-tiba sunyi.

Semua
terdiam. Ya Ilahi, apakah sebenarnya yang ada di
dalam tas tersebut. Apakah benar bahwa si
Fulanah (siswi) tersebut ….
Setelah dilakukan musyawarah akhirnya tim
pemeriksa sepakat untuk membawa sang siswi
dan tasnya ke kantor, guna melanjutkan
pemeriksaan yang barang kali membutuhkan
waktu lama …
Siswi tadi masuk kantor sedang air matanya
bercucuran bagai hujan. Matanya memandang ke
arah semua yang hadir di ruangan itu dengan
tatapan penuh benci dan marah.

Karena mereka
akan mengungkap rahasia dirinya di hadapan
orang banyak. Ketua tim pemeriksa
memerintahkannya duduk dan menenangkan
situasi. Dia pun mulai tenang. Dan kepala sekolah
pun bertanya, apa yang kau sembunyikan di
dalam tas wahai anakku …?
Di sini, dalam saat-saat yang pahit dan sulit, dia
membuka tasnya. Ya Ilahi, apakah gerangan yang
ada di dalamnya??? Bukan. Bukan. Tidak ada
sesuatu pun yang dilarang ada di dalam tasnya.
Tidak ada benda-benda haram, hand phone
berkamera, gambar dan foto-foto atau surat cinta.

Demi Allah, tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali
sisa makanan (roti). Ya, itulah yang ada di dalam
tasnya.
Setelah ditanya tentang sisa makanan yang ada di
dalam tasnya, dia menjawab, setelah menarik
nafas panjang.
“Ini adalah sisa-sisa roti makan pagi para siswi,
yang masih tersisa separoh atau seperempatnya di
dalam bungkusnya. Kemudian saya kumpulkan
dan saya makan sebagiannya. Sisanya saya bawa
pulung untuk keluarga saya di rumah …Ya, untuk
ibu dan saudara-saudara saya di rumah. Agar
mereka memiliki sesuatu yang bisa disantap untuk
makan siang dan makan malam.

Kami adalah
keluarga miskin, tidak memiliki siapa-siapa. Kami
bukan siapa-siapa dan memang tidak ada yang
bertanya tentang kami. Alasan saya untuk tidak
membuka tas, agar saya tidak malu di hadapan
teman-teman di ruangan tadi.”
Tiba-tiba suara tangis meledak ruangan tersebu.
Mata semua yang hadir bercucuran air mata
sebagai tanda penyesalan atas perlakukan buruk
pada siswi tersebut.
Ini adalah satu dari sekian banyak peristiwa
kemanusiaan yang memilukan di Palestina. Dan
sangat mungkin juga terjadi di sekitar kehidupan
kita. Kita tidak tahu, barang kali selama ini kita tidak
peduli dengan mereka. Doa dan uluran tangan kita,
setidaknya bisa sedikit meringankan penderitaan
mereka. Khususnya saudara-saudara kita di
Palestina yang hingga kini terus dilanda tragedi
kemanusiaan akibat penjajahan Zionis Israel.






Kisah Nyata…Tujuh kali naik Haji tidak bisa melihat Ka’bah

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.

Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.

Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kmebali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.

Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.

Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.

Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.

Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.

Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud.

Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.

“Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah.

Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. “Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya. “Oh, bagus…..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu. “Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang. Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.

“Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.”

Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
“Astagfirullah……” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.

Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.

Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dala perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.

“Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah.
“Cuma itu ? tanya ulama terperangah. “Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !”. ucap ulama dengan nada tinggi.

“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.”
“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata ulama.

“Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.”
“Maksudnya ?”. tanya ulama tidak mengerti.

“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.”

“Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”

Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.

“Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah….!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan”.

Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.

Akhirnya ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”

Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah t elah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.

“Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad,” ujar Hasan.

Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut.

“Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?”. tanya ulama itu.

Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.

Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.

Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri.

Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,” Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!”. kata orang itu.

Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya.

“Aku minta supaya kau jangan menengok ke belekang, sampai tiba di rumahmu, “pesan lelaki itu.

Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kenazah ibunya.

Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langka h seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.

Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.

Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.



•.¸(`'•.¸*♥*¸.•'´)¸.•

بِسْـــــــمِ أللَّهِ ألرَّحْمَنِ ألرَّحِيْ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kisah Tentang Pengorbanan Seorang Ayah
AYAH...!!! Aq Ga BUTUH IBU..!!! Aq Ga Mau IBU..!!!
(`'•.¸(`'•.¸*♥*¸.•'´)¸.•'´)(`'•.¸(`'•.¸*♥*¸.•'´)¸.•'´)

Aq bahagia walau hanya tinggal dg ibu, Ibu seorang guru ngaji yg baik, lembut & sayang pd anak2. Tubuhnya yg kecil sll terbalut gamis2 besar & kerudung panjang. Aq sangat bersyukur memiliki Ibu yg sabar & sangat perhatian. Dulu sering kutanyakan pada Ibu di mana ayahku tapi Ibu hanya menangis sambil berkata " Ayahmu ada di dekatmu, dia sll memperhatikanmu karna ayah sangat sayang padamu." Ibu tak pernah mengatakan dimana ayah dia hanya bilang ayah ada di dekatmu sama seperti ibu, Ayah sangat sayang padamu." Sll itu jawabanya tp Ibu tak pernah mengajakku bertemu ayah.

Ibuku sangat sayang padaku selain mengajar mengaji ibu jg membuat kueh2 utk di jual, Ibu bekerja keras utk biaya sekolahku bahka Ibu berjuang demi membiayai kuliahku. Stlh lulus kuliah ada teman satu kampusku yg melamarku, dan kami akan segera menikah, waktu utk persiapan pernikahan hanya 6 bulan.
Suatu sore aq duduk berdua di ruang tengah & kuberanikan diri utk bertanya pd Ibu tentang Ayahku.
" Ibu... Aq sebentar lg akan menikah, bisakan Aq bertemu dg Ayah ? Aq ingin Ayah jadi waliku Bu.."
Ibu hanya terdiam & menangis, Aq bingung mulai kudesak Ibu." Ibu... Katakan di mana ayahku, apakah Ibu bohong selama ini ? Apa Ayahku masih hidup Bu... ? qt ga punya saudara siapa yg akan jadi waliku ? Ibu sll bilang Ayah ada di dekatku, Ayah sayang padaku tapi Ayah tak pernah datang menemuiku" Aq menangis meluapkan perasaanku yg kupendam selama ini.
"Ibu... Kenapa Ayah tega padaku, tak pernah sekalipun mengantar & menjemputku sekolah seperti anak2 lain. Ga pernah ucapkan selamat saat aq naik kelas, Tak pernah memberiku hadiah saat lulus sekolah, bahkan saat Aq wisuda Ayahpun ga ada. Aq benci ayah... Benci.. Benci.. Benci. Ayah tak rindu padaku bahkan saat Aq sakit ayah tak menjengukku, Mungkin bila Aq mati Ayah jg tak peduli padaku." Aq menangis sejadi2nya kudengar tangis Ibu yg terasa pilu & sangat sedih. Aq peluk Ibu "Ibu maafkan Aq bu.. Aq ga ingin menyakitimu, tp Aq jg butuh Ayah paling tdk satu kali saja Ayah datang menjadi waliku. Aq ga minta lebih. Dalam tangisnya Ibu berkata lirih " hanya Tuhan yg bs memberikan jalan agar dia bisa datang sebagai Ayahmu & menjelaskan semua yg terjadi. Ibu berharap kau bisa mengenal Ayah dg cara yg lbh baik.
Hari demi hari berlalu, pernikahanku tinggal menghitung hari, Aq pamit utk pergi membeli perlengkapan buat hantaran. " Bu Aq pergi dulu ya, mungkin pulang agak sore. "Hati2 ya" jawab Ibu. Saat di tengajah jalan aq ingat catatanku ketinggalan. Untung blm naik kendaraan. Aq ambil catatanku di kamar saat hendak pergi tiba2 kulihat ada laki2 keluar dari kamar mandi, sontak Aq terkejut dia lebih terkejut melihatku. Perlahan di mendekatiku yg diam terpaku, suaranya lirih menyebut namaku & tangannya kutepis dg kasar saat ingin menyentuhku. Aq berlari meninggalkannya sambil menangis tak ku hiraukan tangisnya yg terus memanggilku. Aq pergi ke rumah teman, Aq tak ingin pulang. Aq terus menangis sambil berkata." Aq benci dia... Aq benci dia kenapa dia begitu tega padaku..." Paginya Aq putuskan utk pulang & meminta penjelasan ttg semua rahasia dlm hidupku. Tiba di rumah Ibu menyambutku dg tatapan cemas. Aq bertanya dg nada dingin, " katakan,.. Kenapa kau tega melakukan ini padaku ? Aq harus memanggilmu apa ? IBU... Atau Ayah... ?
Dia menuntun duduk & mulai bercerita. " Dulu saat kau lahir Ibumu meninggal dunia tanpa sempat melihatmu. Setelah pemakaman Ibumu nenekmu mengusir qt karna dianggap membawa sial & menyebabkan Ibumu meninggal. Pernikahan itu memang tdk direstui karna Aq miskin yatim piatu & hidup di panti asuhan. Aq membawamu pergi & kau terus menangis, Ag bingung harus berbuat apa ? Bahkan Aq sempat dipukuli karna disangka penculik bayi. Aq tak ingin meninggalkanmu di panti, Aq berjanji akan merawatmu. Dalam kebingungan aq berfikir utk memakai baju & jilbab Ibumu agar orang tdk berfikir buruk. Sambil terus berjalan Aq mencari kontrakan utk tinggal. Karna sudah larut akhirnya ada org yg iba & mengijinkan qt bermalam di rumahnya. Keesokan harinya qt melanjutkan perjalanan hingga tiba di tempat ini & menetap di sini. Org2 mengenaku sbg Ibumu, aq terpaksa merubah semua identitas dg KTP pasu, Ini semua kulakukan karna kau lbh membutuhkanku sbg Ibu. Org2 mengenalku sbg wanita tp Aq ttp laki2 saat bersujud di hadapan ALLAH. Aq tak tahu harus mulai dr mana untuk menjadi Ayahmu. Aq hanya ingin membesarkanmu & membuatmu bahagia. Aq rela menutupi jati diriku & hidup dlm kepaluan, kegelisahan & ketakutan kau akan membenciku. Aq takut kau akan pergi meninggalkanku saat kau tahu semunya. Tapi Allah tlh membuat rencananya untukku, Rahasia yg kupendam selama ini harus kau tahu menjelang hari pernikahanmu. Maafkan Aq yg tdk bisa memberimu Cinta & kasih sayang yg sempurna.
" AYAH..." Kupeluk dia pertamakalinya sebagai Ayahku. " AYAH... Aq Ga BUTUH IBU... Aq Ga MAU IBU... Aq ingin Kau Menjadi Ayahku. Aq ingin Kau Menjadi Ayahku yg sesungguhnya. Jangan terus mengorbankan hidup Ayah untukku. Jadilah Ayahku, Ayah yg akan selalu Aq banggakan." Aq & Ayahku pindah ke kota lain tempat di mana Ayahku bisa memulai hidup barunya sebagai Ayah yg Aq banggakan. Aq pergi diam2 & membawa barang2 sekedarnya. Kuceritakan semua pd calon suamiku & keluarganya. Mereka bisa menerimaku & Ayahku dg masa lalunya. Aq tinggal bersa dg Suamiku & Ayahku. 2 lelaki hebat yg memberikan lukisan Indah dlm hidupku.
U the best Father, I LOVE U because ALLAH.

Semoga bermanfaat
Kisah nyata some 1



"SEORANG IBU SEDANG SHOLAT, DI TENDANG
ANAK,DAN ANAK ITU BERUBAH MENJADI
ANJING".
Naudzubillah
Kisah mirip Malin Kundang kemarin terulang
di Dusun Sigambal, Desa Pinang Awan, Kec.
Torgamba, Labuhan Batu Selatan. Seorang
siswi SMP mendadak berubah wujud usai
menendang kepala ibunya yang lagi sholat.
Gadis belia itu menjelma jadi ular berkepala anjing.
Hingga akhir November kemarin, kabar itu
menggemparkan warga di sana. Tapi
anehnya, banyak warga setempat termasuk
perangkat desa, kompak tutup mulut soal
identitas gadis durhaka dan ibu malang itu. Alasannya, mereka takut kualat atau tertular
kena kutukan.
Karena itu, beredar kabar: ibu dan anak itu
telah diungsikan ke sebuah lokasi rahasia di
Medan. Itu dilakukan demi menghindari
kedatangan ratusan orang dari berbagai daerah yang ingin melihat anak durhaka itu.
Kebenaran kisah heboh ini kemarin dibeber
UT, seorang warga di lokasi kejadian. Ia
memperlihatkan rekaman dari handphone
yang menggambarkan sesosok gadis telah
berubah wujud menjadi binatang. Pengakuan UT, rekaman itu diambilnya
sendiri. Dalam rekaman, terlihat jelas seekor
ular berkepala anjing dengan posisi meliuk.
Anehnya, ular berkepala anjing itu memiliki 2
tangan menyerupai biawak, juga memiliki
rambut putih panjang. Tayangan dalam rekaman, sambil berputar
keliling, ular berkepala anjing itu terdengar
mengeluarkan jeritan dan isak tangis
sembari berurai air mata. Banyak warga
yang
menyaksikan merasa prihatin sekaligus ngeri melihatnya.
Menurut UT, gadis durhaka yang masih
duduk di bangku kelas 2 SMP itu, dalam
kesehariannya berperangai buruk dan sering
melawan orang tuanya yang hanya bekerja
mocok-mocok, sesekali mencari upahan kerja kepada para tetangga dan kerabatnya.
UT bercerita. “Suatu hari,” ucap UT tanpa
mau menyebut pasti tanggal kejadiannya,
“gadis belia itu merengek minta dibelikan
sepeda motor Yamaha Mio kepada ibu
kandungnya. Karena merasa disepelekan dan diacuhkan sang ibu yang sedang sholat, dia
tiba-tiba menendang kepala ibunya ketika
sedang bersujud.”
Inilah awal petaka itu. Saat itu juga, wajah
gadis itu sontak berubah wujud menjadi
anjing kurus. Seluruh badan dan kakinya lalu berubah menjadi ular. Ketika sang ibu
menyelesaikan sholatnya, kontan dia
menjerit histeris dan menangis meraung-
raung melihat puteri kesayangannya telah
berubah wujud.
Hingga akhir November lalu, Kapolsek Torgamba, AKP Tampubolon, enggan
berkomentar soal kabar heboh yang
menggemparkan wilayahnya. Bahkan
menurutnya, tidak terjadi apa-apa di wilayah
hukumnya.
Qarin Api Kejadian heboh ini berbeda dengan legenda
maling kundang. Kalau kutukan bagi maling
kundang, terjadi usai ibunya berseru kepada
Allah. Tapi kalau kutukan bagi anak durhaka
yang hebohkan Labuhan Batu ini, akibat
Allah langsung yang berseru. Kun fayakun. Jadi maka jadilah. Demikian penilaian
spritualis Ki Ageng Awaluddin.
Menurutnya, perubahan wujud sang anak
menjadi berkepala anjing akibat unsur api
lebih mendominasi diri atau qorin si anak.
Unsur itu pula yang membuat Iblis dan syetan banyak mengendalikan hidupnya.
“Hanya Allah yang dapat menjawab,
kematianlah nantinya yang mampu merubah
wujudnya kembali, itu pun tak lepas atas
kuasa Allah,” ujar Ki Ageng soal kebenaran
kisah itu. Pun begitu, menurutnya, kisah Rahasia Illahi
ini bukan tak mengandung pesan penting,
terutama untuk ulama. “Nyatakanlah
kebenaran itu secara Islamiah, atas
pengajaran terhadap sikap anak terhadap
orang tua, alim ulama, guru atau sesama, karena hal itu tak terlepas peran alim ulama,
dari apa yang dilihat para anak-anak. Ini juga
menandakan alam sudah tua dan situasi saat
ini kembali kepada kehidupan dan
peradaban yang tak mengedepankan moral
serta menenggelamkan sendi-sendi kebenaran agama,” kata Ki Ageng sambil
mengingatkan: surga itu memang ada di
bawah telapak kaki ibu. “Jadi semuanya itu
adalah laknat Allah yang terjadi kepada anak
durhaka itu,” sambungnya. (Abah Rahman/
PM). Semoga kita bisa mengambil ibrah (pelajaran)
dari kejadian ini. Meski kabar ini masih belum
pasti kebenaraanya 100 % karena infonya
masih sifatnya tertutup,,ya setidaknya kita
jadi prihatian, yang penting jngan kita
sampai menyakiti hati orangtua kita adanya.






بِسْـــــــمِ أللَّهِ ألرَّحْمَنِ ألرَّحِيْ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

•´ ♥♥ `• Renungan •´ ♥♥ `•

~* SAHABAT CAHAYA ~*
Kisah Nyata :
***♥♥♥ SEBUAH KEMATIAN YANG MENAKUTKAN ♥♥♥***

Sepasang wanita muda sedang duduk duduk pada sebuah bar di hotel berbintang lima, dengan pemandangan “Laut Mati” (Dead Sea), sekitar 40 km dari kota Amman Ibu kota Jordan, hotel itu terletak sangat dekat dengan perbatasan Israel, mereka sedang menikmati “Tequilla”, itulah salah satu jenis minuman keras yang paling umum disana.

Ketika dalam perjalanan pulang, keduanya menyaksikan seorang wanita yang tergeletak di tengah jalan, keadaannya sangat mengerikan, wanita itu sangat dikenal oleh keduanya, seorang PSK yang selalu mabuk dari hasil kerjaannya, wanita itu tergeletak di tengah jalan dalam keadaan tak bernyawa, perutnya yang buncit dan menonjol menunjukkan bahwa ia sedang hamil tua telah pecah, sedangkan dilehernya masih tergantung termos besi yang berisi arak.

Wanita itu tewas disebabkan menyeberang dalam keadaan mabuk. Tubuhnya yang kurus dengan perut yang buncit itu dihantam sebuah truk peti kemas hingga terlempar. Belum cukup hantaman truk besar itu melandanya, tubuh wanita itu bagaikan panah lepas dari busurnya menghantam tebing karang disamping jalan. Lalu tubuh penuh dosa itu terhempas di kerikil tajam di teras jalan. Tulang kepalanya remuk, sebagian kulit kepala dan rambutnya masih menempel di tebing karang. Paha kanannya sudah terpisah dari tubuhnya. Perutnya robek serta kepala bayi kecil tersembul dari perut ibunya yang bermandikan darah dan arak yang berasal dari termos yang penyok sekalian meremukkan tulang rusuknya, bayi itu masih tampak bergerak-gerak, terkejang-kejang, lalu diam untuk selamanya. Pemandangan menyeramkan itu membuat kedua wanita itu pucat pasi dan jatuh pingsan.

Keesokan harinya kedua wanita itu saling bertemu di sebuah Mall di Pusat kota Amman, akan tetapi yang satu sudah jauh berubah, ia telah mengenakan jilbab lengkap, wajahnya sudah memancarkan cahaya tobat, dan kelopak matanya membengkak karena banyak menangis. Wanita kedua tampak kaget, “Hei…apa aku tak salah lihat?” serunya dengan pandangan keheranan.

Wanita pertama hanya menunduk dan berkata lirih, “Aku telah kembali pada bimbingan Tuhanku, aku takut dan malu padaNya, aku jijik terhadap diriku, aku rindu pada keindahan, aku rindu pada kesucian, aku rindu pada kemuliaan, hanya Tuhanku yang mau mema’afkanku, hanya Tuhanku yang dapat memuliakanku, hanya Tuhanku yang dapat menyucikanku…” Belum selesai ia berbicara wanita kedua sudah berlalu dari hadapannya.

Tiga bulan berlalu tanpa terasa, kedua wanita itu sudah tak pernah berhubungan lagi, wanita pertama sedang asyik menikmati cahaya ayat-ayat Allah, ia duduk di kursi kayu di beranda rumahnya, melewatkan sore harinya bersama Al-Qur’an, yang dahulu sore harinya ia habiskan bersama Tequilla. Tiba tiba Ponselnya berbunyi seakan hendak memutus kenikmatannya, tetapi ia enggan memutus ngajinya, ia biarkan selular itu berbunyi, berhenti dan berbunyi lagi, lalu berhenti dan berbunyi lagi, akhirnya dengan sangat berat ia menghentikan bacaan Al-Qur’annya dan menjawab telepon, ternyata si penelepon adalah temannya yang sudah tiga bulan tak pernah mau berhubungan dengannya.

Temannya berkata lirih, “Bagaimana sih caranya bertobat..?” Dengan gembira wanita shalihah itu menjelaskan cara cara shalat, membaca Al-Qur’an dan ibadah-ibadah Indah lainnya. Tetapi temannya terdiam dan berkata dengan berat, “Sholat..?, pake jilbab..?, aduh malas ah, aku berat melakukannya. Tapi…., aku butuh ketenangan.” Wanita shalihah itu berusaha meyakinkan bahwa Ibadah dengan diawali tobat adalah ketenangan yang sangat indah. Namun temannya memang kepala batu, seraya berkata, “ngga deh.., aku belum mau jadi biarawati..!”, seraya memutus hubungan teleponnya.

Tiga hari kemudian wanita shalihah itu mendapat kabar bahwa temannya telah menemui ajalnya. Lalu ia bergegas untuk melayat ke rumah temannya dan ternyata jenazah telah menuju pusara untuk dimakamkan. Sesampainya ia dirumah temannya ia bertemu ibu dari temannya tersebut yang juga terlambat, karena datang dari luar kota. Ibu itu tergopoh-gopoh menuju pusara anak perempuannya didampingi si wanita shalihah. Ketika tiba ternyata penguburan telah selesai. Si ibu berteriak menjerit-jerit, ia menjambak rambut dan merobek bajunya memaksa untuk melihat jenazah anaknya terakhir kali. Penguburan dan talqin sudah usai, namun permintaan ibu membuat para hadirin menjadi bingung. Mereka berusaha menyabarkan Sang ibu, namun ibu itu terus memaksa dengan terus merobeki bajunya. Akhirnya permintaannya pun dengan berat diterima, kuburan itu di gali lagi atas permintaan keluarganya.

Penggalipun dengan cepat menggali pusara itu. Namun ketika sampai pada kayu penutup mayat, ternyata kayu kayu itu sudah hancur. Mereka menyingkirkan kayu kayu itu dengan penasaran… semua wajah melongokkan pandangannya ke liang kubur. Lalu kayu-kayu hancur itu pun disingkirkan dengan hati-hati, maka terlihatlah pemandangan yang sangat mengerikan. Kain kafan penutup mayat itu sudah hancur berserakan, mayat wanita itu hangus terbakar, rambutnya kaku bagaikan jeruji besi, hampir mirip sapu ijuk, kedua bola matanya berada dipipinya dalam keadaan kuncup bagaikan buah kering yang terbakar. Dan lidahnya terjulur keluar serta dari mulut, mata dan telinganya mengalirkan asap yang berbau daging hangus.

Semua sosok yang menyaksikan pemandangan itu terlonjak mundur. Ibu dan wanita shalihah itu sudah sedari tadi jatuh pingsan. Dan para penggali kubur yang sudah melompat keluar liang itu dengan tanpa pikir panjang menimbun liang itu dengan cepat dan lari meninggalkan pusara.

Wanita shalihah itu semakin giat beribadah. Ibu wanita malang tadi sudah menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Dan kubur itu menjadi kuburan terakhir yang dimakamkan di pemakaman itu, karena tak ada lagi orang yang mau menguburkan keluarganya di makam itu.

Firman Allah : “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (QS Al Hasyr-21).

~ o ~

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#
------------------------------------------------
.... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa atuubu Ilaik ....