Klik

Ahmad Zaki Yusuf


Seorang sarjana barat menulis pengalamannya sebagai berikut :
            “suatu hari aku memutuskan untuk melakukan eksperimen tentang bagaimana wajah yang penuh perhatian dan kegembiraan berpengaruh dalam hidupku. Sebelumnya, hari itu aku merasa sedih dan tertekan, akhirnya pagi itu aku meninggalkan rumah dengan niat untuk bergembira. Aku mengerti, menurut pengalamanku selama ini, bahwa wajah yang penuh perhatian dan penuh kegembiraan mampu memberiku kekuatan. Aku ingin mencoba apakah diriku juga mampu mempengaruhi orang lain dengan cara yang sama. Aku ulangi hal ini terus menerus sambil bekerja, yakni ketepatanku agar menjadi orang yang penuh perhatian dan berwajah ceria; aku bahkan meyakinkan diri, bahwa aku adalah orang yang sangat beruntung. Alhasil, aku merasakan suatu perasaan bahagia merasuki tubuhku. Aku seolah-olah sedang terbang melayang. Aku memandang ke sekelilingku dengan senyum lebar di wajahku; aku masih melihat wajah-wajah di sekelilingku yang menampakkan ciri-ciri kesedihan. Hatiku terbakar melihat orang-orang ini, dan aku berharap dapat memberi mereka secercah sinar dari dalam hatiku”.
            “Pagi itu aku memasuki kantor dan memberi salam kepada akuntan dengan cara yang tidak seperti biasanya. Sebelumnya jarang sekali aku tersenyum, dan tidak pernah menyambut mereka dengan cara seperti ini. Sang akuntan memberiku salam yang hangat dan ramah. Pada saat itu aku merasa bahwa kebahagiaanku benar-benar mempengaruhinya”.
            “Aku pun mempraktekkan cara ini terhadap keluargaku sehingga membawa hasil yang positif. Walhasil aku menjadi aktif, bahagia dan membuat orang lain di sekelilingku merasakan hal yang serupa”.
Hal ini juga mungkin bagi Anda. Bertemu dengan orang lain dengan wajah ceria, pasti bunga-bunga kebahagiaan akan mekar dalam kehidupan Anda, seperti bunga mawar yang berkembang di musim semi, dan Anda akan banyak memperoleh sahabat yang membawa kedamaian dan ketenangan kepada kehidupan Anda selama-lamanya.
            Tiada seorang pun dapat menyangkal pengaruh besar sikap ini dalam melembutkan hati musuh. Rasa hormat dan perilaku yang baik juga memainkan peranan penting dalam meyakinkan lawan agar tunduk kepada ideologi.

Dalam hal ini penulis Barat lainnya mengatakan:
            “Semua gerbang terbuka bagi orang-orang yang berwajah ceria dan beperilaku mulia, sedang bagi orang-orang yang berkelakuan buruk, harus mendobrak gerbang itu untuk membukanya, seperti para gangster. Yang terbaik di antara berbagai persoalan adalah hal-hal yang berhubungan dengan kebaikan, akhlak yang baik dan keceriaan”
Selain itu, saya ingin menambahkan, bahwa perilaku yang baik itu menjamin kebahagiaan dan membimbing tingkah laku yang baik menuju kesempurnaan; tetapi hanya jika cara-cara dan perilaku seperti ini benar-benear mengakar ke dalam lubuk hati seseorang yang jauh dari sifat munafik dan pura-pura.
            Dengan kata lain, perasaan cinta harus merupakan manifestasi dari apa yang ada di dalam hati. Penampilannya diluar tidak perlu memcerminkan apa yang tersbunyi di dalam hatinya. Mungkin saja beberapa perilaku baik seseorang bertentangan dengan hatinya yang terganggu dan tersesat. Memang banyak orang-orang jahat menghiasi diri mereka dengan pakaian malaikat, dengan cara itu mereka menyembunyikan wajah yang menakutkan di balik tirai kecantikan.

Ahmad Zaki Yusuf dari Sumber Buku Psikologi Islam, Membangun Kembali Moral Generasi Muda oleh: Sayyid Mujtaba Musavi Lari
Ahmad Zaki Yusuf


Jika saja setiap orang memahami harta haram berkonspirasi merusah tubuh seseorang dan seluruh kehidupannya, tentu mereka akan menghentikan aktivitas melanggar hukum langit dan bumi itu detik ini juga.
            Dr. Tauhid Nur Azhar, ilmuwan ‘segala bisa’ itu, dalam bukunya Haram Bikin Seram menggambarkan, betapa tubuh manusia bereaksi sangat keras terhadap makanan berstatus haram, baik karena bahan pembuatannya ataupun cara mendapatkannya.
            Pertanyaan pertama, mengapa setiap orang yang menerima benda haram, taruhlah, uang hasil KKN, akan cenderung gelisah? Jantungnya berdebar keras, keringat dinginnya meleleh di sepanjang tulang punggung, napasnya tersengal-sengal, dan kepala pening?
            Ternyata, penyebabnya adalah rasa bersalah, rasa telah melakukan sebuah kekeliruan besar. Tahukah anda “rasa bersalah” itu ketika dijabarkan dalam uraian ilmiah akan memunculkan pengetahuan yang menakjubkan?
            Jika seseorang terus melanjutkan tindakan “haram” nya, menentang fitrah kejujuran dalam dirinya, getaran rasa bersalah itu mengguncang sistem normalitas dan homeostatis atau keseimbangan internal diri. Hormon skotofobin sebagai hormon ketakutan melimpah. Ini mendorong ketidak seimbangan hormonal lainnya. Akibatnya, metabolisme tubuh berubah drastis, kacau balau. Para elektron, proton, quark, lepton, boson dan fermion terganggu ritmenya.
            Keseimbangan yang sebelumnya berjalan sesuai perkembangannya menjadi berantakan. Konsep larangan pauli; pemisahan elektron dan arah spin yang sama dalam orbital bohr yang berbeda, tidak lagi dipatuhi. Para elektron semuanya berloncatan dan bertingkah laku semaunya!
            Apa yang terjadi jika uang hasil KKN tadi kemudian dibelanjakan? Jika uang itu kemudian dibelikan daging, inilah yang akan terjadi.
            Ketika daging itu dimakan beramai-ramai oleh seluruh anggota keluarga, sewaktu sampai di lambung dan saluran pencernaan, amilase, gastrin, pepsin, tripsin, garam empedu dan juga lipase akan malas “menjamu” karena daging tadi dianggap tidak dikenal.
            Akibatnya ? “daging tadi akan diolah seenaknya dan tentu semaunya juga. Blok pembangun yang semestinya menjadi bagian dari sifat saleh dan jenius pada otak anak, gagal menjadi protein. Bahkan, banyak di antaranya yang menjadi gugus sterol alias lemak. Lemak ini akan terakumulasi menjadi hormon steroin dari anak ginjal yang mendorong terciptanya rasa cemas, gelisah, khawatir, dan ketakutan, (pemarah, pemurung)” terang Dr. Tauhid.
Ahmad Zaki Yusuf


Suatu hari, Umar bin Khattab ra. Melihat seorang pemudah memesona. Penampilannya bersih, pakaiannya baik, bahasa tubuhnya bagus. Umar sangat kagum terhadap pemuda itu seperti layaknya setiap orang terkesan melihat orang yang berpenampilan necis dan menyakinkan.

                Rasa penasaran memuncaki perasaan Umar. Karena Ia tidak mengenal pemuda itu, sang Khalifah lantas bertanya kepada salah seorang pembantunya, siapa sebenarnya pemuda itu.

                “Dia tidak bekerja ya Ammirul Mukminim! Ia hidup dari harta orang tuanya” jawab sang pembantu.

                Mendengar jawaban itu, berubahlah air muka Umar tidak lagi berseri.”Jika benar demikian, tidak ada arti segala kekaguman terhadap dirinya,” jawab Umar.

                Dengan caranya sendiri, cerita itu membentuk sebuah pemahaman dalam benak saya, kemandirian, seberapa pun dayanya, adalah harga seseorang. Sesaleh apa pun, sejujur apa pun, setampan apa pun, jika seorang tidak mandiri, karena ia tidak menginginkannya, menjadi nihillah nilainya.

                Keringat diciptakan untuk keluar dari pori-pori manusia dengan nilai sebuah usaha. Keringat dengan nilai usaha itu akan keluar lewat segala aktivitas bernilai manfaat. Sekecil apa un nilai mata uang setiap negeri pasti menghargainya. Artinya, kemandirian, dalam bentuk apap un, adalah hal mutlak bagi setiap orang yang ingin membangun harga dirinya, posisi tawarnya.

Dirangkum oleh Ahmad Zaki Yusuf, sumber dari buku Inu Kencana for President
Ahmad Zaki Yusuf


Sesungguhnya keagungan Allah sang pencipta tidak sekadar menciptakan lalu mengakhiri kehidupan semua makhluk di dunia ini saja. Kendati demikian, tirai hitam yang menutupi hati orang-orang kafir belum tersingkap jua.
                Kehidupan manusia bukan di dunia saja. Di dunia ada orang yang zalim, ada orang yang membunuh, ada orang yang berbuat sewenang-wenang. Kita sering melihat, orang yang sewenang-wenang hidup bergelimang kemewahan dan kekuasaan. Dalam keadaan seperti itu, ke mana perginya pengaduan orang-orang yang dizalimi? Ke mana perginya derita orang-orang yang tertindas? Apakah penderitaan dan kesengsaraan mereka ditelan bumi begitu saja bersama kematian mereka ?
                Sesungguhnya keadilan mengharuskan adanya hari Kiamat. Kebaikan memang tidak selalu mendapatkan kemenangan di dunia ini. Tak jarang kejahatan berhasil mengkordinir bala tentaranya dan membunuh kebaikan.
                Apakah kejahatan seperti itu dibiarkan berlalu tanpa ada hukuman? Sebuah kezaliman yang teramat besar jika kita beranggapan bahwa hari kiamat tidak akan pernah datang. Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya, dan Allah juga melarang kezaliman dilakukan di antara hamba-hambanya. Di antara bentuk kesempurnaan keadilan Allah adalah adanya hari kiamat, hari hisab, & hari pembalasan.
                Demikiankah eksistensi hari kiamat. Di hari kiamat nanti, semua masalah manusia di dunia digelar dihadapan Allah sang pencipta. Masalah-masalah tersebut dibahas kembali, dan Allah sendiri yang akan mengadilinya.
                Itulah urgensi pertama hari kiamat. Hari kiamat berhubungan dengan keadilan Allah. Urgensi lain dari hari kiamat berhubungan dengan perilaku manusia. Sesungguhnya hari kiamat, kebangkitan manusia dari alam kubur, menunggu hisab, berjumpa pahala/siksa, masuk surge/neraka, adalah keyakinan yang menggantungkan pandangan dan hati manusia ke alam lain pasca alam dunia. Maka dari itu, manusia tidak berhak berbuat sewenang-wenang di dunia, terlalu berharap dengan dunia, bersikap egois, atau bersusah hati karena belum mendapatkan ganjaran dari amal yang dilakukan karena umurnya yang pendek di dunia. Karena itu pulalah manusia diciptakan dari tanah liat, kemudian Allah meniupkan ruh kepadanya. Barangkali, persimpangan jalan antara ketundukan terhadap bayangan dunia beserta nilai-nilai kemewahannya, dengan menggantungkan diri terhadap nilai-nilai Allah yang agung dan nilai-nilai yang selaras dengan kemanusiaan terkumul dalam keimanan terhadap Hari Kiamat.

Dirangkum oleh Ahmad Zaki Yusuf dari buku Nabi-Nabi Allah  -Ahmad Bahjat-
Ahmad Zaki Yusuf


Teruslah Berbuat Kebajikan

            Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya.

            Mereka akan merasakan "buah"nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu lapang dada, tenang, tenteram dan damai.

            Ketika diri Anda diliputi kesedihan dan kegundahan, berbuat baiklah terhadap sesama manusia, niscaya Anda akan mendapatkan ketentraman dan kedamaian hati. Sedekahilah orang yang papa, tolonglah orang-orang yang terzalimi, ringankan beban orang yang menderita, berilah makan orang yang kelaparan, jenguklah orang yang sakit, dan bantulah orang yang terkena musibah, niscaya Anda akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan Anda!

            Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih.

            Menebar senyum manis kepada orang-orang yang "miskin akhlak" merupakan sedekah jariyah. Ini, tersirat dalam tuntunan akhlak yang berbunyi, "... meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri." (Al-Hadits)
Sedang kemuraman wajah merupakan tanda permusuhan sengit terhadap orang lain yang hanya diketahui terjadinya oleh Sang Maha Gaib.
 
            Seteguk air yang diberikan seorang pelacur kepada seekor anjing yang kehausan dapat membuahkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
 Ini merupakan bukti bahwa Sang Pemberi pahala adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, Maha Baik dan sangat mencintai kebajikan, serta Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

            Wahai orang-orang yang merasa terancam oleh himpitan kesengsaraan, kecemasan dan kegundahan hidup, kunjungilah taman-taman kebajikan, sibukkan diri kalian dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong, dan meringankan beban sesama. Dengan semua itu, niscaya kalian akan mendapatkan kebahagiaan dalam semua sisinya; rasa, warna, dan juga
hakekatnya.

{Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabb-nya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.}
(QS. Al-Lail: 19-21)

-La Tahzan DR. 'Aidh al-Qarni